Warga Hentikan Paksa Sosialisasi WMO
Sabtu, 22 Juni 2013 17:40:14 - oleh : husen

Warga Hentikan Paksa Sosialisasi WMO

KABARSURAMADU.COM, BANGKALAN-Sebanyak ratusan warga nelayan dari kecamatan Tanjung Bumi yang tergabung dalam Aliansi Nelayan Melawan Penindasan (AMPEDAS), dan nelayan dari kecamatan Sepuluh dan kecamatan Klampis yang mengatasnamakan Front Perlawanan Nelayan Sepuluh (FPNS). Melakukan aksi pembubaran Acara Sosialisasi Area Terbatas dan Terlarang yang di gelar PHE (pertamina hulu energi) di kantor kecamatan Sepulu.

Ratusan nelayan yang di pimpin langsung para kepala desa di tiga kecamatan ini, membubarkan secara paksa. Acara sosialisasi yang di gelar PHE WMO di kantor kecamatan sepulu. Akibatnya acara sosialisasi yang baru dimulai dengan tarian penyambut di hentikan panitia. Pasalnya massa menyuruh para undangan untuk pulang dan membubarkan diri. Bahkan salah seorang kepala desa sempat melemparkan kursi ke arah panitia.

"Ayo bubar, jangan di teruskan acara ini, kalau tidak ingin terjadi sesuatu yang tidak di inginkan" ujar koordinator nelayan sekaligus Kepala Desa Sepulu, Suryadi.

menurut, Suryadi PT PHE WMO tidak mempunyai etika, karena tidak mengundang para Kepala Desa yang wilayahnya terkena dampak ekploitasi dan eksplosi sumur migas di perairan kecamatan Sepulu, Klampis dan Tanjung Bumi. Semestinya pihak panitia mengundang para kepala desa, karena kepala desa lebih tahu keluhan dari masyarakat.

"Apa mereka takut, kalau mengundang kami akan mendapat penolakan, karena yang jelas dengan adanya aktifitas pengeboran 30 sumur baru yang di lakuka PHE WMO, hasil tangkapan ikan berkurang sebab ekosisten laut tercemar" ungkapnya.

Sementara itu koordinator AMPEDAS, Martolo, secara tegas menolak aktifitas pengeboran yang dilakuan PHE WMO. Apalagi para nelayan dilarang melintas di are pengeboran. Sehingga para nelayan terpaksa menempuh jarak lebih jauh untuk mencari ikan.

"Dengan adanya area terbatas dan terlarang ini, berdampak pada biaya oprasional nelayan yang tinggi. Karena jarak tempuh nelayan dalam mencari ikan semakin jauh" terangnya.

Dikatakan dia, eksploitas dan eksplorasi yang di lakukan PHE WMO, di pesisir pantai, sangat mengancam keselamatan para nelayan. Sebab peralatan tersebut di tanam di laut tanpa di beri rambu-rambu. Sehingga perahu nelayan bisa menabrak dan tersangkut ke peralatan yang di pasang PHE.

" Yang jelas kami menolak aktifitas Eksploitasi maupun ekplorasi yang di lakukan PHE" ucapnya.

Sejak adanya aktifitas WMO, lanjut Martolo, hasil tangkapan ikan para nelayan berkurang. Karena selain tercemar habitat ikan semakin berpindah ketengah lautan.

"Sampai saat ini kami para nelayan belum pernah mendapatkan kompensasi dari PHE WMO, dan meskipun di beri kompensasi kami tidak akan menerimanya. Yang kami ingin WMO hengkang dari perairan Madura" cetusnya.

Sementara itu, setelah mendapat protes dari para kepala desa dan nelayan. Panitia pelaksana terpaksa menghentikan acara sosialisasi area terbatas dan terlarang di kecamatan Sepulu, karena para undangan membubarkan diri.

"Kami minta maaf, mungkin terjadi Mis komunisasi terkait pelaksanaan sosialisasi ini, yang jelas nanti kami koordinasikan kembali dengan seluruh pihak" ujar, koordinator fild Scurity PHE WMO, Purwoto.(sen)

 

| More

Berita "Bisnis" Lainnya